Bank Blora Artha beri kelonggaran untuk 49 debitur

Foto: Gatot Aribowo

Arief Syamsuhuda, Direktur Utama Perumda BPR Bank Blora Artha.

Jumat, 05 Juni 2020 16:19 WIB

BLORA (wartaEkbis)—Perusahaan umum daerah (Perumda) BPR Bank Blora Artha memberikan relaksasi atau kelonggaran kepada 49 debiturnya. Kelonggaran ini mulai dari memberikan keringanan bunga hingga penundaan angsuran. Kelonggaran diberikan lantaran adanya pandemi covid-19 yang cukup berdampak bagi sektor-sektor usaha dari debitur.

Direktur Utama Perumda BPR Bank Blora Artha, Arief Syamsuhuda menyebut, kelonggaran atau relaksasi dilakukan dengan tujuan mendorong pemerintah, khususnya pemerintah di Kabupaten Blora untuk pemulihan ekonomi akibat adanya wabah yang telah berlangsung 3 bulan lebih.

"Ini khususnya ke sektor informal yang banyak digeluti oleh rakyat kecil. Sektor ini yang paling banyak terdampak adanya wabah korona yang juga masuk ke Kabupaten Blora," jelasnya kepada wartawan, Jumat (5/6/2020).

Arief menyebut ada 4 kelonggaran yang diberikan kepada debitur. Antara lain: memberikan keringanan bunga, perpanjangan jangka waktu pembayaran kredit, penundaan pembayaran angsuran dari 2 hingga 3 bulan, dan pembayaran bunga pinjaman.

"Masing-masing debitur akan melalui berbagai pertimbangan, yang mempertimbangkan kemampuan bayar pasca covid. Karena oleh OJK (otoritas jasa keuangan) dibatas sampai 31 Maret 2021. Selepas tanggal itu kembali normal," paparnya.

Dengan memberikan kelonggaran ini, target pendapatan dan laba yang direncanakan manajemen pun tak lagi menjadi patokan. "Karena memang tujuannya turut mendorong pemerintah dalam memulihkan kondisi ekonomi di tengah pandemi," ujarnya.

Ditambahkannya, dari 49 debitur atau 10 persen jumlah keseluruhan debitur BPR Bank Blora Artha, total plafon yang mendapat kelonggaran mencapai Rp8,254 miliar, atau 20 persen dari plafon keseluruhan.

"Rinciannya, 12 debitur plafonnya hingga Rp25 juta, 9 debitur memiliki plafon di atas Rp25 juta hingga Rp50 juta, 5 debitur mempunyai plafon di atas Rp50 juta hingga Rp100 juta, 19 debitur berplafon di atas Rp100 juta hingga Rp500 juta, dan 4 sisanya di atas Rp500 juta hingga Rp1 miliar," paparnya.

Dari rincian tersebut, Bank Blora Artha membagi terdampaknya dalam 3 skala: terdampak ringan, sedang, hingga terdampak berat. "Sementara ada yang sama sekali tidak terdampak, yang kebanyakan di sektor formal, seperti ASN yang tidak mendapatkan relaksasi," imbuhnya.

Untuk yang terdampak berat, kebanyakan datang dari debitur sektor informal. "Seperti warung yang tutup karena pandemik. Lalu ada yang terdampak sebagian, penghasilannya berkurang," pungkasnya. ***