Brambang Go dan Teri Go Blora

Dari industri kecil rumahan menuju manajemen modern

Foto: Gatot Aribowo

Searah jarum jam: Mbak Ni, Rusman--suami Mbak Ni, dan Pipit Samgautama. Sedang memegang produk-produk brambang goreng dan teri goreng.

Jumat, 24 Januari 2020 09:18 WIB

PIPIT Samgautama sedang duduk dengan seberkas catatannya di atas clipboard. Di belakangnya, Sri Murni sibuk menggoreng brambang sambil menjawab pertanyaan yang dilontarkan Pipit. Pertanyaan seputar pengeluaran yang dibelanjakan Mbak Ni, panggilan Sri Murni dalam memproduksi brambang goreng dan teri goreng. Pengeluaran dihitung secara harian, berikut biaya-biaya variabelnya. Ada biaya botol kemasan yang distok selama 20 hari ke depan, dengan ongkos variabel per botolnya Rp2.450. Kemudian ada biaya per kilogram brambangnya yang harganya naik-turun. Di minggu ini harga brambang Rp17.000 per kilogram, dengan produksi harian baru 12 kilogram. Pernah suatu ketika harga per kilogram brambang di atas Rp30 ribu.

Tak ketinggalan dihitung: biaya minyak gorengnya. Dalam produksi 12 kilogram brambang, Mbak Ni memerlukan 4 liter minyak goreng bermerk. Keperluan ini untuk pemakaian 2 kali penggorengan tiap 2 liternya. Sementara keperluan bahan bakar gasnya, 1 tabung bisa dipakai dalam 2 hari.

Biaya-biaya tersebut belum termasuk belanja cabe untuk membuat bon cabenya yang dipakai membuat varian produk rasa pedas. Kemudia belanja garam, seal plastik, kertas, juga biaya tenaga kerjanya. Ada lagi biaya belanja ikan teri untuk memproduksi teri goreng yang dioplos dengan brambang goreng. Sedangkan untuk daun kelor, Mbak Ni memetik sendiri dari belakang rumahnya. Daun kelor ini untuk membuat varian produk brambang goreng daun kelor, juga teri goreng daun kelor.

"Penghitungan biaya-biaya ini kami lakukan untuk menentukan kembali harga pokok penjualannya," kata Pipit pada Kamis itu, (23/1/2020).

Saat ini harga jual brambang goreng Rp20 ribu per kemasan toplesnya yang berat bersihnya tepat 80 gram. Sementara harga jual teri goreng Rp35 ribu, dengan kemasan sama dan berat bersih yang sama pula dengan brambang goreng.

Terdapat berbagai varian rasa produk yang dikeluarkan Mbak Ni, yang diberi merk Brambang Go untuk brambang goreng dan Teri Go untuk teri goreng. Untuk brambang gorengnya: ada rasa original, pedas, dan gurih. Rasa yang sama berlaku untuk brambang goreng daun kelor. Yang membedakan hanya di daun kelornya.

"Ide campuran daun kelor datang dari Pak Sam yang ingin ada potensi lokal Blora yang bisa diangkat," sebut Pipit. Pak Sam merujuk pada nama suaminya, Sam Gautama Karnajaya yang menjabat Kepala Dinas PUPR.

Untuk teri goreng hanya ada 2 varian rasa: gurih dan pedas. Pilihan campuran daun kelornya juga ada.

"Saat ide untuk memberikan campuran daun kelor, kami tak hanya sekali dua kali dalam melakukan uji coba untuk benar-benar kandungan di daun kelornya tidak hilang," kata Pipit yang kini bertanggung jawab penuh pada manajemen pemasarannya.

Kandungan alamiah daun kelor yang dipakai di produk tersebut mencapai 90 persen.

Pemasaran Brambang Go dan Teri Go saat ini masih mengandalkan media sosial, Facebook dan Instagram. Sementara di marketplace, hanya menggunakan shopee. Jangkauan pemasarannya telah mencapai ke luar negeri. Mulai dari Malaysia, Hongkong, hingga Korea Selatan dan beberapa negara di Timur Tengah. Kebanyakan pelanggannya orang Indonesia yang ada di sana. Sedangkan di dalam negeri sendiri jangkauannya sudah mencapai ke Papua. Pembelian dari kota-kota besar di Pulau Jawa juga tak sedikit. Mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, hingga Surabaya.

"Dalam seharinya kami baru bisa menjual hingga 40 kemasan toples, baik Brambang Go maupun Teri Go," ungkap Pipit.

Sayangnya, sejumlah penjualan ini hampir tidak terpromosi di kota sendiri. Pasalnya, belum didapatkannya kios untuk display dan tempat penjualan produk. Sempat terpikirkan untuk menggunakan Kawasan Grojogan yang baru dibangun, kendati belakangan kawasan yang pembangunannya bertahap tersebut ‘diganggu’  LSM.

Sejumlah penjualan ini juga belum bisa digenjot di pemasaran online-nya mengingat keterbatasan tenaga kerja. Hanya ada 4 orang tenaga kerja, termasuk Mbak Ni dan suaminya, Rusman. Mbak Ni bertanggung jawab pada pencucian brambang, pengirisannya, penggorengannya, pengeringan, dan memasukkannya ke dalam kemasan toples. Sementara Rusman bertanggung jawab pada pengemasannya. Dua orang lainnya dipekerjakan untuk memproses pengupasan brambangnya.

Mbak Ni sendiri juga bertanggung jawab pada pembelanjaan bahan bakunya. Proses produksi masih banyak bergantung pada Mbak Ni, yang dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 2 siang. Dalam waktu 5 jam tersebut, jumlah produksi yang dihasilkan berkisar antara 36 hingga 40 toples siap jual. Jumlah produksi ini masih bisa ditingkatkan per harinya dengan jumlah tenaga kerja yang sama namun jam kerja yang lebih panjang.

"Kalau 70 toples dalam sehari kayaknya masih bisa," kata Mbak Ni.

Namun demikian, peningkatan kapasitas produksi harian ini akan dilakukan setelah label halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bisa didapat.

"Target saya," kata Pipit, "label ini bisa kami dapat di tahun depan, 2021."

Tak mudah untuk bisa mendapatkan label ini. Tempat produksinya tidak memungkinkan, dan harus pindah. Saat ini produksi Brambang Go dan Teri Go masih dikerjakan di rumah Mbak Ni di Dukuh Gulingan, Desa Tempurejo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Dulunya rumah Mbak Ni ini tergolong sangat tidak layak huni, apalagi untuk produksi olah makanan yang perlu hiegenis. Lalu oleh Dinas PUPR Kabupaten Blora dicarikan jalan agar Mbak Ni yang dulunya hanya pekerja serabutan bisa mentas dari kemiskinannya. Kebetulan Mbak Ni di desanya dikenal jago dalam hal goreng menggoreng bawang merah (brambang). Saat sambatan di orang punya hajatan, ia yang bagian menggoreng brambang.

Lalu turunlah bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Blora di awal tahun 2019. Melalui acara seremonial di DPUPR Kabupaten Blora, Mbak Ni menerima bantuan tersebut, disaksikan Bupati Blora Djoko Nugroho yang ingin tiap dinasnya memiliki binaan-binaan untuk rumah tangga miskin. Bantuan digunakan untuk merenovasi dapur Mbak Ni. Masih belum mencukupi, beberapa pegawai di Dinas PUPR mengupayakan tutup atap dan lantai dari paving. Sekat lalu dibuat untuk memisahkan antara dapur dengan kamar mandi dan toilet.

Sudah beres menata dapur sebagai tempat produksi yang kelak bisa mendapatkan sertifikasi produksi industri rumah tangga dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora. Selanjutnya mulailah eksperimen produksi. Kebetulan selama setahun sebelumnya, Mbak Ni sudah menjalin kerja sama dengan Pipit untuk menerima orderan brambang goreng. Pipit yang mencari order, Mbak Ni yang memenuhi orderan.

"Niat awalnya saat mencarikan orderan hanya sekedar untuk memberikan pekerjaan kepada Mbak Ni," kata Pipit.

Selama setahun sebelum menerima bantuan yang diupayakan Dinas PUPR, produksi brambang goreng masih belum diseriusi. Pipit belum terpikirkan untuk mendorong kerja sama mereka ke arah usaha yang lebih serius. Bagi Pipit saat itu sekedar untuk Mbak Ni agar tak terjerat hutang sana-sini buat membiayai hidupnya yang hanya mengandalkan suaminya yang buruh pengantar air galon. Padahal anak sudah beranjak masuk sekolah.

Keseriusan Pipit muncul ketika Bupati Djoko Nugroho memberi perintah kepada anak buahnya, kepala-kepala dinas untuk melakukan pembinaan terhadap rumah tangga miskin agar keluar dari kemiskinannya dan bisa mandiri dalam berusaha. Perintah ini tak terkecuali untuk Sam Gautama Karnajaya.

"Saat itu," kata Sam, "Pak Bupati ingin kami membina sebanyak-banyaknya. Lalu saya menawarnya untuk melakukan pembinaan terhadap satu atau dua rumah tangga saja. Maksud saya agar bisa lebih serius dan berkelanjutan. Percuma kalau kita mengambil banyak rumah tangga lalu sekedar kita berikan bantuan sebagai pembinaan, kemudian kita lepas. Saya inginnya dibina secara serius, bahkan kalau perlu kita jadikan pengusaha yang sukses."

Bupati Djoko Nugroho setuju dengan apa yang dicetuskan Kepala Dinas PUPR tersebut. Kebetulan Baznas Kabupaten Blora mengelola dana yang tak sedikit. Dimintalah Baznas memasukkan rumah Mbak Ni sebagai daftar penerima bantuan bedah rumah. Khusus Mbak Ni yang dibedah adalah dapurnya.

"Secara total biaya yang dikeluarkan untuk merenovasi dapur tidak hanya dari Baznas. Saya juga menambahi kekurangan-kekurangan biayanya,” kata Mbak Ni.

Usai merenovasi dapur agar higienis dalam memproduksi bahan makanan olahan, hasil eksperimen pembuatan brambang goreng dilakukan uji coba produk di Dinas Kesehatan Kabupaten Blora. Uji coba dilakukan beberapa kali. Tiap ada gagal uji, masukan dan saran dari Dinas Kesehatan langsung ditindaklanjuti. Hingga jelang pertengahan 2019, barulah sertifikat dari Dinas Kesehatan Blora didapat untuk 2 merk: Brambang Go dan Teri Go.

“Merk Go untuk memberikan feel yang lebih menghentak dan energik,” kata Pipit.

Namun nama merk ini dikritik habis-habisan seorang mentor pemasaran di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tempat Pipit menimba ilmu pemasaran dari Januari hingga April nanti. Bagi mentor tersebut, nama merk Brambang Go dan Teri Go kurang komunikatif dengan pasar.

“Katanya feel-nya sudah masuk. Tapi nama merknya perlu diganti,” kata Pipit.

Pipit memang berniat serius untuk menekuni usahanya bersama Mbak Ni ini. Kelemahan Mbak Ni yang tidak fasih berkomunikasi akan menyulitkan pemasaran bila tak ia tangani. Tanggung jawab manajemen pun dibagi-bagi. Mbak Ni bertanggung jawab pada manajemen produksi yang menekankan pada kontrol kualitas, sementara Pipit memegang manajamen pemasaran dan keuangannya.

Kebetulan Pipit aktif membuka jaringan di kalangan pengusaha-pengusaha perempuan. Akses informasi tentang kelas-kelas pemasaran untuk pengusaha ia dapat, diantaranya dari Inspiring Womenpreneur. Dinformasikan adanya kelas pemasaran untuk 10 pengusaha di UNY yang diampu mentornya Kaesang Pangarep, Irma Sustika. Biayanya tak murah, lebih dari Rp4 juta. Namun bagi Pipit biaya ini tergolong investasi. Ilmu pemasaran yang didapat tak sedikit.

“Tak sekedar teori yang di angan-angan, tapi sekaligus menerapkan di usaha yang telah kami jalani masing-masing. Khusus saya, studi kasusnya adalah produk Brambang Go dan Teri Go ini. Sebelum mengajar, Bu Irma telah mengumpulkan berbagai produk brambang goreng yang ada di Indonesia sebagai bahan perbandingan. Hasilnya, produk dari Blora ini unggul dan teratas soal rasa. Menurutnya hanya kalah di pengemasan dan brandingnya,” tutur Pipit.

Studi pertama yang ditekankan mentor tersebut adalah diminta untuk menghitung ulang pembiayaan produksi agar ketemu harga pokok penjualan yang tepat. Karenanya, Kamis, 23 Januari 2020 Pipit mendatangi Mbak Ni untuk menanyakan ongkos produksi yang dikeluarkan.

“Sebab selama ini yang tahu pembelanjaannya Mbak Ni. Saya selama ini hanya menjualkan saja,” kata Pipit.

Setelah perhitungan untuk menentukan harga pokok penjualan, selanjutnya mem-branding ulang. Nantinya merk brambang goreng dan teri goreng produksi Mbak Ni tidak lagi Brambang Go dan Teri Go. Dengan merk baru harga baru akan lebih bisa diterima pasar.

“Saya sedang mencari inspirasi untuk mendapatkan nama baru merk brambang goreng dan teri goreng ini,” ujar Pipit.

Sambil mencari nama baru, Pipit juga sedang menyiapkan survei konsumen. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner ia susun, dan telah dikoreksi mentornya untuk mendapatkan survei yang tepat dalam strategi pemasarannya, baik diferiensasi-nya, positioning-nya, juga branding-nya. Ini adalah istilah-istilah dalam ilmu pemasaran yang di awal abad 21 dipopulerkan Hermawan Kartajaya.

Bagi Mbak Ni dan Pipit, jalan kesuksesan itu sudah ada. Gambaran untuk mencapai kesuksesan juga sudah terbayang. Tinggal ketekunan dan kesabaran, serta kreativitas untuk melaluinya. ***